Selasa, 06 April 2010

PRINSIP PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI

PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI


1. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan merupakan kegiatan universal yang ada dalam kehidupan manusia, di manapun di dunia terdapat masyarakat, di sanalah terdapat pendidikan. Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum dalam setiap kehidupan masyarakat, namun perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing bangsa atau masyarakat menyebabkan adanya perbedaan penyelenggaraan termasuk perbedaan sistem pendidikan.
Salah satu aspek penting dalam pendidikan adalah proses pembelajaran. Aspek ini seringkali memang menjadi fokus penting dalam pendidikan. Namun demikian, pembelajaran yang selama ini sudah dan sedang dilakukan, belum menyentuh substansi serta harapan yang ingin dicapai. Pembelajaran yang dilakukan hanya merupakan pembelajaran asal-asalan yang tidak mempunyai dasar pijakan yang kuat, sehingga pembelajaran tidak memenuhi harapan, dan menghasilkan output dengan mutu yang tidak baik pula.

1. PEMBAHASAN
A. Pengertian
1. Prinsip
Prinsip adalah kebenaran yang menjadi pokok dasar berfikir, bertindak.
2. Belajar
Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; Berlatih; Berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
3. Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar, perbuatan mempelajari.[1]
Jadi Prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran adalah pola dasar pefikir atau bertindak dalam rangka proses mencari ilmu dan pengalaman untuk terjadinya perubahan tingkah laku.
B. Teori Belajar
1. Teori Disiplin Mental
Sebelum abad ke-20, telah berkembang beberapa teori belajar, salah satunya adalah teori disiplin mental. Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen, dan ini berarti dasar orientasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Tokoh teori disiplin mental adalah Plato dan Aristoteles. Teori disiplin mental ini menganggap bahwa dalam belajar, mental siswa harus didisiplinkan atau dilatih.[2]
2. Teori Behaviorisme
Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati atau diukur. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul.
Beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu:
a. Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil
b. Bersifat mekanistis
c. Menekankan peranan lingkungan
d. Mementingkan pembentukan reaksi atau respons
e. Menekankan pentingnya latihan
Ada beberapa teori belajar yang termasuk pada rumpun behaviorisme ini, antara lain:
a. Teori Koneksionisme
Menurut teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama.
Selanjutnya, dalam teori koneksionisme dikemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
1) Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Dimana hubungan antara stimulus dan respons akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Implikasi praktis dari hukum ini adalah, bahwa keberhasilan belajar seseorang sangat tergantung dari ada atau tidak adanya kesiapan.
2) Hukum Latihan (Law of Exercise)
Hukum ini menjelaskan kemungkinan kuat dan lemahnya hubungan stimulus dan respons. Implikasi dari hukum ini adalah makin sering suatu pelajaran diulang, maka akan semakin dikuasainya pelajaran itu.
3) Hukum Akibat (Law of Effect)
Hukum ini menunjuk kepada kuat atau lemahnya hubungan stimulus dan respons tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya. Implikasi dari hukum ini adalah apabila mengharapkan agar seseorang dapat mengulangi respons yang sama, maka harus diupayakan agar menyenangkan dirinya,
b. Teori Pengkondisian (Conditioning)
Teori pengkondisian (conditioning) merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Tokoh teori ini adalah Ivan Pavlov (1849-1936). Ia adalah ahli psikologi-refleksologi dari Rusia.
c. Teori Penguatan (Reinforcement)
Kalau pada teori pengkondisian (conditioning) yang diberi kondisi adalah perangsangnya (stimulus), maka pada teori penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responsnya. Seorang anak yang belajar dengan giat dan dia dapat menjawab semua pertanyaan dalam ulangan atau ujian, maka guru memberikan penghargaan pada anak itu dengan nilai yang tinggi, pujian, atau hadiah. Berkat pemberian penghargaan ini, maka anak tersebut akan belajar lebih rajin dan lebih bersemangat lagi.

d. Teori Operant Conditioning
Psikologi penguatan atau “operant conditioning” merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme dan “conditioning”. Tokoh utamanya adalah Skinner. Skinner adalah seorang pakar teori belajar berdasarkan proses “conditioning” yang pada prinsipnya memperkuat dugaan bahwa timbulnya tingkah laku adalah karena adanya hubungan antara stimulus dengan respons.
3. Teori Cognitive Gestalt-Filed
Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif. Menurut teori ini, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respons.
Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight”, yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan.
Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental. Rumpun psikologi Gestalt bersifat molar, yaitu menekankan keseluruhan yang terpadu, alam kehidupan manusia dan perilaku manusia selalu merupakan suatu keseluruhan, suatu keterpaduan.
Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah:
a. Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Teori Gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta.
b. Anak yang belajar merupakan keseluruhan
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak.
c. Belajar berkat insight
Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta.
d. Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu.


C. Prinsip-Prinsip Pengajaran
Tugas guru mengelola pengajaran dengan lebih baik, efektif, dinamis, efisien, ditandai dengan keterlibatan peserta didik secara aktif, mengalami, serta memperoleh perubahan diri dalam pengajaran. Ada beberapa prinsip pengajaran diantaranya adalah:
1) Prinsip Aktivitas
Pengalaman belajar yang baik hanya bisa didapat bila peserta didik mau mengaktifkan dirinya sendiri dengan bereaksi terhadap lingkungan. Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun aktivitas psikis. Aktifitas fisik adalah peserta didik giat dan aktif dengan anggota badan.
2) Prinsip Motivasi
Motivasi berasal kata motive–motivation yang berarti dorongan atau keinginan, baik datang dari dalam diri (instrinsik) maupun dorongan dari luar diri seseorang (ekstrinsik). Motif atau biasa juga disebut dorongan atau kebutuhan, merupakan suatu tenaga yang berada pada diri individu atau siswa, yang mendorongnya untuk berbuat dalam mencapai suatu tujuan.
3) Prinsip Individualitas (Perbedaan Individu)
Setiap manusia adalah individu yang mempunyai kepribadian dan kejiwaan yang khas. Secara psikologis, prinsip perbedaan individualitas sangat penting diperhatikan karena:
a. Setiap anak mempunyai sifat, bakat, dan kemampuan yang berbeda
b. Setiap individu berbeda cara belajarnya
c. Setiap individu mempunyai minat khusus yang berbeda
d. Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda
e. Setiap individu membutuhkan bimbingan khusus dalam menerima pelajaran yang diajarkan guru sesuai dengan perbedaan individual
f. Setiap individu mempunyai irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda.
4) Prinsip Lingkungan
Lingkungan adalah sesuatu hal yang berada di luar diri individu. Lingkungan pengajaran adalah segala hal yang mendukung pengajaran itu sendiri yang dapat difungsikan sebagai sumber pengajaran atau sumber belajar.
5) Prinsip Konsentrasi
Konsentrasi adalah pemusatan secara penuh terhadap sesuatu yang sedang dikerjakan atau berlangsungnya suatu peristiwa. Konsentrasi sangat penting dalam segala aktivitas, terutama aktivitas belajar mengajar.
6) Prinsip Kebebasan
Prinsip kebebasan dalam pengajaran yang dimaksud adalah kebebasan yang demokratis, yaitu kebebasan yang diberikan kepada peserta didik dalam aturan dan disiplin tertentu. Dan disiplin merupakan suatu dimensi kebebasan dalam proses penciptaan situasi pengajaran.

7) Prinsip Peragaan
Alat indera merupakan pintu gerbang pengetahuan. Peragaan adalah menggunakan alat indera untuk mengamati, meneliti, dan memahami sesuatu. Pemahaman yang mendalam akan lahir dari analisa yang komprehensif sehingga menghasilkan gambaran yang lengkap tentang sesuatu.
Agar siswa dapat mengingat, menceritakan, dan melaksanakan suatu pelajaran yang pernah diamati, diterima, atau dialami di kelas, maka perlu didukung dengan peragaanperagaan (media pengajaran) yang bisa mengkonkritkan yang abstrak.
8) Prinsip Kerjasama Dan Persaingan
Kerjasama dan persaingan adalah dua hal berbeda. Namun dalam dunia pendidikan (prinsip pengajaran) keduanya bisa bernilai positif selama dikelola dengan baik. Persaingan yang dimaksud bukan persaingan untuk saling menjatuhkan dan yang lain direndahkan, tetapi persaingan yang dimaksud adalah persaingan dalam kelompok belajar agar mencapai hasil yang lebih tinggi tanpa menjatuhkan orang atau siswa lain.
9) Prinsip Apersepsi
Apersepsi berasal dari kata ”Apperception” berarti menyatupadukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki. Atau kesadaran seseorang untuk berasosiasi dengan kesankesan lama yang sudah dimiliki dibarengi dengan pengolahan sehingga menjadi kesan yang luas. Kesan yang lama itu disebut bahan apersepsi.
Apersepsi dalam pengajaran adalah menghubungan pelajaran lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana anak didik mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru.
10) Prinsip Korelasi
Korelasi yaitu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan anak atau dengan pelajaran lain sehingga pelajaran itu bermakna baginya. Korelasi akan melahirkan asosiasi dan apersepsi sehingga dapat membangkitkan minat siswa pada pelajaran yang disampaikan.
11) Prinsip Efisiensi dan Efektifitas
Prinsip efisiensi dan efektifitas maksudnya adalah bagaimana guru menyajikan pelajaran tepat waktu, cermat, dan optimal. Alokasi waktu yang telah dirancang tidak sia-sia begitu saja, seperti terlalu banyak bergurau, memberi nasehat, dan sebagainya.
12) Prinsip Globalitas
Prinsip global atau integritas adalah keseluruhan yang menjadi titik awal pengajaran. Memulai materi pelajaran dari umum ke yang khusus. Dari pengenalan sistem kepada elemen-elemen sistem. Pendapat ini terkenal dengan Psikologi Gestalt bahwa totalitas lebih memberikan sumbangan berharga dalam pengajaran.

13) Prinsip Permainan dan Hiburan
Setiap individu atau peserta didik sangat membutuhkan permainan dan hiburan apalagi setelah terjadi proses belajar mengajar. Bila selama dalam kelas siswa diliputi suasana hening, sepi, dan serius, akan membuat peserta didik cepat lelah, bosan, butuh istirahat, rekreasi, dan semacamnya. Maka guru disarankan agar memberikan kesempatan kepada anak didik bermain, menghibur diri, bergerak, berlari-lari, dan sejenisnya untuk mengendorkan otaknya.

D. Pinsip-Pinsip Pembelajaran
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa secara mandiri, tampaknya sudah saatnya disusun sejelas mungkin, terutama dalam hal pengertian yang mutakhir tentang bagaimana anak-anak belajar dan berperilaku pada setiap tahapan perkembangan mereka. Penekanan utama tentang masalah bagaimana siswa belajar terangkum dalam lima prinsip berikut.[3]
1) Prinsip pertama, pembelajaran tidak dipisah di dalam setiap mata pelajaran (subjek) dan konsep-konsep diambil dengan cara memadukan mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain. Hal itu berlaku juga dalam cara-cara belajar, berpikir, dan berpengetahuan.. Ketika mereka terus belajar, mereka melakukan hubungan-hubungan yang lebih kuat untuk kemudian terus-menerus membentuk kerangka-kerangka yang lebih luas, kompleks, dan generatif. Dengan demikian, dalam proses belajarnya, para siswa menunjukkan keunikan masing-masing. Hal itu mempengaruhi bagaimana mereka menginterpretasikan pengalaman masing-masing; dan itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan sistem belajar formal yang konvensional. Selanjutnya para siswa dimotivasi agar mampu membuat seluruh konsep implisit menjadi konsepsi eksplisit untuk mengenal kekuatan-kekuatan dan keterbatasan-keteibatasan konsepsi asal mereka sehingga mereka dapat membentuk atau menyesuaikannya sesuai degan keperluan mereka. Bagaimanapun, pengetahuan yang paling baik dan akan senantiasa diingat dalam jangka waktu yang lebih lama adalah pengetahuan yang dikontekstualisasikan. Secara bertahap, para siswa belajar menggeneralisasikan pengetahuan dari satu konteks dan me-nerapkannya pada konteks yang lainnya.
2) Prinsip kedua, pembelajaran mencakup proses-proses yang berjalan seperti spiral daripada secara linear. Hal itu sangat membutuhkan peng-ulangan (revisiting) konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan yang senantiasa diperluas sehingga semua kerangka pengetahuan dan keteram-pilan itu secara berkesinambungan dikenali dan diperluas untuk keperluan mengakomodasikan pengetahuan yang baru. Melalui sistem belajar cara spiral, setiap mata pelajaran tidak dapat dilihat sebagai rangkaian yang disusun dari potongan-potongan yang tersendiri dan terpisah dari penge­tahuan dan keterampilan yang harus dikuasai dalam susunan yang linear.


3) Prinsip ketiga, pembelajaran memerlukan siswa-siswa yang terampil dalam berkomunikasi melalui bahasa dan ragam bahasa dalam bentuk-bentuk representasi yang lain. Pembelajaran dalam semua mata pelajaran seluruh kurikulurn berada dalam kondisi yang saling berkaitan dengan bahasa. Bahasa digunakan untuk merepresentasikan pengalaman dan menciptakan hubungan yang mengarah pada pengertian baru dan bahkan ilmu pengetahuan baru. Dalam hal ini, komunikasi terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk percakapan, laporan, bagan, diagram, tulisan, ilustrasi, model, dan Iain-lain.
4) Prinsip keempat, pembelajaran mencakup kemajuan dari setiap siswa melalui tahap pertumbuhan. Perkembangan kognitif para siswa melaju melalui tahapan luas dari pengetahuan, pemikiran, dan pengertian. Pengertian antar budaya menyatakan bahwa tahap pertumbuhan terjadi secara umum hampir sama pada semua siswa dari semua latar belakang budaya. Kemajuan para siswa tidak dapat hanya diasumsikan; hal ini harus didasarkan pada perencanaan, pembinaan, bantuan, motivasi, dan penulisan.
5) Prinsip kelima, pembelajaran mencakup karakter atau kualitas yang berkembang atau sikap para siswa untuk berpikir dan bertindak melalui cara-cara yang positif, menentukan tujuan-tujuan pribadi, menghargai ke-kuatan ilmu pengetahuan, membuat keputusan, bekerja dengan pihak-pihak lain, dan secara bertahap bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri.
6) Prinsip-Prinsip Belajar dan Pembelajaran
Perencana dan/atau pengembang pembelajaran yang hendak memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode pembe­lajaran perlu memahami prinsip-prinsip pembelajaran yang mengacu pada teori belajar dan pembelajaran.
Dari konsep belajar dan pembelajaran dapat diidentifikasi prinsip-prinsip belajar dalam pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut.[4]
1. Prinsip Kesiapan (Readiness)
Proses belajar sangat dipengaruhi oleh kesiapan individu sebagai subjek yang melakukan kegiatan belajar. Kesiapan belajar adalah kondisi fisik-psikis (jasmani-mental) individu yang memungkinkan subjek dapat melakukan belajar. Peserta didik yang belum siap melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami kesulitan atau malah putus asa tidak mau belajar. Kesiapan belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi, dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.
Berdasarkan prinsip kesiapan belajar tersebut, dapat dikemuka-kan hal-hal yang terkait dengan pembelajaran, antara lain :
1) individu akan dapat belajar dengan baik apabila tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan kesiapan (kematangan usia, kemampuan, minat, dan latar belakang pengalamannya);
2) kesiapan belajar harus dikaji lebih dulu untuk memperoleh gambaran kesiapan belajar siswanya dengan jalan mengetes kesiapan atau ke-mampuan;
3) jika individu kurang siap untuk melaksanakan suatu tugas belajar maka akan menghambat proses pengaitan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang dimilikinya. Karena itu, jika kesiapan sebagai prasyarat belajar maka prasyarat itu harus diberikan lebih dulu;
4) kesiapan belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan untuk menerima sesuatu yang baru dalam membentuk atau mengembangkan kemampuan yang lebih mantap;
5) bahan dan tugas-tugas belajar akan sangat baik kalau divariasi sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik yang akan belajar.
2. Prinsip Motivasi (Motivation)
Motivasi dapat diartikan sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Ada tidaknya motivasi dalam diri peserta didik dapat diamati dari observasi tingkah lakunya. Menurut (Worrel dan Stilwill, 1981) apabila peserta didik mempunyai motivasi, ia akan :
1) bersungguh-sungguh, me-nunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar;
2) berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan ter­sebut; dan
3) terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terse-lesaikan
Berkenaan dengan prinsip motivasi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran pendidikan agama:
a. Memberikan dorongan (drive)
Tingkah laku seseorang akan terdorong ke arah suatu tujuan tertentu apabila ada kebutuhan. Kebutuhan ini menyebabkan timbulnya dorongan internal, yang selanjutnya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu menuju tercapainya suatu tujuan.
b. Memberikan insentif
Adanya karakteristik tujuan menyebabkan seseorang bertingkah laku untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan yang menye­babkan seseorang bertingkah laku tersebut disebut insentif
Dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam juga diperlukan insentif untuk lebih meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Insentif dalam pembelajaran pendidikan agama Islam tidak selalu berupa materi, tetapi bisa berupa nilai atau penghargaan sesuai kadar kemampuan yang dapat dicapai peserta didik.


c. Motivasi Berprestasi
Setiap orang mempunyai motivasi untuk bekerja karena adanya kebutuhan untuk dapat berprestasi. McClelland (dalam Carleson, 1986) mengemukakan bahwa motivasi merupakan fungsi dari tiga variabel, yaitu :
1) harapan untuk melakukan tugas dengan berhasil;
2) prestasi tertinggi tentang nilai tugas; dan
3) kebutuhan untuk keberhasilan atau kesuksesan.
Karena itu, guru perlu mengetahui sejauh mana kebutuhan berprestasi setiap peserta didik. Peserta didik yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan menyelesaikan tugas atau masalah yang memberikan tantangan dan kepuasan secara lebih cepat. Peserta didik jenis ini memerlukan balikan setiap unjuk kerjanya dengan nilai atau pujian yang tepat. Sebaliknya, peserta didik yang memiliki motivasi berprestasi rendah, pada umumnya tidak realistik untuk mencapai tujuannya.
d. Motivasi Kompetensi
Setiap peserta. didik memiliki keinginan untuk menunjukkan kompetensi dengan berusaha menaklukkan lingkilngannya. Motivasi belajar tidak bisa dilepaskan dari keinginannya untuk menunjukkan kemampuan dan penguasaannya kepada yang lain. Karena itu, diperlukan:
1) keterampilan mengevaluasi diri;
2) nilai tugas bagi setiap peserta didik;
3) harapan untuk sukses;
4) patokan keberhasilan;
5) kontrol belajar; dan
6) pe-nguatan diri untuk mencapai tujuan. (Worell dan Stilwell, 1981)
e. Motivasi kebutuhan menurut Maslow
Menurut Maslow, manusia memiliki kebutuhan yang bersifat hierarkis, yaitu:
Teori tersebut menunjukkan bahwa:
1) individu bukan hanya didorong oleh pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis, sosial, dan emosional, melainkan dapat diberikan dorongan untuk rnencapai sesuatu yang lebih dari apa yang dimiliki saat ini;
2) pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi keinginan untuk mencapai tujuan dapat mendorong terjadinya peningkatan usaha, dan pengalaman tentang kegagalan yang tidak merusak citra diri peserta didik dapat memperkuat kemampuan memelihara kesung-guhan dalam belajar;
3) dorongan yang mengatur perilaku tidak selalu jelas bagi peserta didik, misalnya seorang peserta didik yang mengharapkan dari gurunya untuk bisa berubah lebih dari itu karena kebutuhan emosi untuk mencapai sesuatu;
4) motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian, seperti rasa rendah diri atau keyakinan diri sehingga peserta didik yang termasuk pandai belum tentu bisa menghadapi setiap masalah;
5) rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar, kegagalan dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi belajar, semuanya ini bergantung pada berbagai faktor. Karena itu, tidak semua peserta didik dapat diberikan dorongan yang sama untuk melakukan suatu tugas; dan
6) setiap media pembelajaran memiliki pengaruh motivasi yang berbeda pada diri peserta didik sesuai dengan karakteristik individu.

3. Prinsip Perhatian
Perhatian merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan, yaitu :
1) berorientasi pada suatu masalah;
2) me-ninjau sepintas isi masalah;
3) memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan; dan
4) mengabaikan stimuli yang tidak relevan. (Worell dan Stilwill, 1981)
Dalam proses pembelajaran, perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya. Kalau peserta didik mempunyai perhatian yang besar mengenai apa yang disajikan atau dipelajari, peserta didik dapat menerima dan memilih stimuli yang relevan untuk diproses lebih lanjut di antara sekian banyak stimuli yang datang dari luar. Perhatian dapat membuat peserta didik untuk :
1) mengarahkan diri pada tugas yang akan diberikan;
2) melihat masalah-masalah yang akan diberikan;
3) memilih dan memberikan fokus pada ma­salah yang harus diselesaikan;
4) mengabaikan hal-hal lain yang tidak relevan.
Beberapa prinsip yang diajukan Chield (1977), yang perlu diperhatikan dalam mempengaruhi perhatian seseorang adalah :
1) memperhatikan faktor-faktor internal yang mempengaruhi belajar, yaitu minat, kelelahan, karakteristik peserta didik, motivasi; dan
2) memperhatikan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar, meliputi intensitas stimulus, kemenarikan stimulus yang baru, keragaman stimuli, penataan metode yang sesuai dan sebagainya.

4. Prinsip Persepsi
Pada umumnya, seseorang cenderung percaya pada sesuatu sesuai dengan bagaimana ia memahami sesuatu itu pada situasi tertentu. Persepsi adalah suatu proses yang bersifat kompleks yang menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari lingkungannya (Fleming dan Levie, 1981). Persepsi bersifat relatif, selektif, dan teratur. Karena itu, sejak dini kepada peserta didik perlu ditanamkan rasa memiliki persepsi yang baik dan akurat mengenai apa yang dipelajari.
Untuk membentuk persepsi yang akurat mengenai stimuli yang diterima serta mengembangkannya menjadi suatu kebiasaan, perlu ada latihan-latihan dalam bentuk dan kondisi situasi yang bermacam-macam agar peserta didik tetap dapat mengenai pola stimuli itu, meskipun disajikan dalam bentuk yang baru.
Prinsip-prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah :
1) makin baik persepsi mengenai sesuatu, makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut;
2) dalam pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari; dan
3) dalam penibelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang lebih akurat. (Fleming dan Levie, 1981)

5. Prinsip Retensi
Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena itu, retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses penibelajaran.
Dalam penibelajaran perlu diperhatikan prinsip-prinsip untuk meningkatkan retensi belajar seperti yang diungkapkan dari hasil temuan Thomburg (1984) yang menunjukkan bahwa:
1) isi pembelajaran yang bermakna akan lebih mudah diingat dibandingkan dengan isi penibelajaran yang tidak bermakna;
2) benda yang jelas dan kongkret akan lebih mudah diingat dibandingkan dengan benda yang bersifat abstrak;
3) retensi akan lebih baik untuk isi penibe­lajaran yang bersifat kontekstual atau serangkaian kata-kata yang mempunyai kekuatan asosiatif dibandingkan dengan kata-kata yang tidak memiliki kesamaan internal; dan
4) tidak ada perbedaan an-tara retensi dengan apa yang telah dipelajari peserta didik yang mempunyai berbagai tingkatan IQ.
Di samping yang diusulkan dari hasil temuan Thomburg tersebut, Chauham (1979) mengajukan cara-cara untuk mening­katkan retensi belajar, antara lain :
1) usahakan agar isi penibela­jaran yang dipelajari disusun dengan baik dan bermakna. Sebagai bukti, penibelajaran syair akan diingat sebanyak 58% setelah 30 hari, penibelajaran prosa akan diingat sebanyak 40%, dan pembela-jaran kata tanpa makna diingat sebanyak 28%;
2) penibelajaran dapat dibantu dengan jembatan keledai (macmonic), karena akan meningkatkan organisasi materi yang dipelajari seperti akronim NIMIM (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad) untuk mengingat nabi mendapat gelar Ulul azmi;
3) berikan resitasi karena hal ini akan meningkatkan aktivitas peserta didik;
4) susun dan sajikan konsep yang jelas, misalnya dengan bantuan media audio visual; dan
5) berikan latihan pengulangan terutama untuk pembelajaran keterampilan motorik.
6. Prinsip Transfer
Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat mempengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipe­lajari. Pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan di sekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat dipakai untuk meme-cahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam pe-kerjaan yang akan dihadapi kelak. Transfer belajar atau transfer latihan berarti aplikasi atau pemindahan pengetahuan, keteram­pilan, kebiasaan, sikap, atau respon-respon lain dari suatu situasi ke dalam situasi yang lain.
Ada beberapa bentuk transfer, yaitu
1) transfer positif, terjadi apabila pengalaman sebelumnya dapat membantu atau mempermudah pembentukan unjuk kerja peserta didik dalam tugas-tugas selanjutnya;
2) transfer negatif, terjadi apabila pengalaman yang diperoleh sebelumnya menghambat atau mempersulit unjuk kerja dalam tugas-tugas baru; dan
3) transfer nol, terjadi apabila pengalaman yang diperoleh sebelumnya tidak mempengaruhi unjuk kerja dalam tugas-tugas barunya.

7) Prinsip Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan/ pembelajaran pada pendidikan anak usia dini.[5]
Prinsip-Prinsip tersebut meliputi :
1. Berorientasi pada Perkembangan Anak
Dalam melakukan kegiatan, pendidik perlu memberikan kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Anak merupakan individu yang unik, maka perlu memperhatikan perbedaan secara individual. Dengan demikian dalam kegiatan yang disiapkan perlu memperhatikan cara belajar anak yang dimulai dari cara sederhana ke rumit, konkrit ke abstrak, gerakan ke verbal, dan dari ke-aku-an ke rasa sosial.
2. Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak pada usia dini sedang membutuhkan proses belajar untuk mengoptimalkan semua aspek perkembangannya. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan berdasarkan pada perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak.
3. Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain.
Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan pembelajaran pada anak usia dini. Kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan, dan media yang menarik serta mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak. Ketika bermain anak membangun pengertian yang berkaitan dengan pengalamannya.
4. Stimulasi Terpadu
Perkembangan anak bersifat sistematis, progresif dan berkesinambung-an antara aspek kesehatan, gizi dan pendidikan. Hal ini berarti kemajuan perkembangan satu aspek akan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya. Karakteristik anak memandang segala sesuatu sebagai suatu keseluruhan, bukan bagian demi bagian. Stimulasi harus diberikan secara terpadu sehingga seluruh aspek perkembangan dapat berkembang secara berkelanjutan, dengan memperhatikan kematangan dan konteks sosial, dan budaya setempat.
5. Lingkungan Kondusif.
Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta demokratis sehingga anak merasa aman, nyaman dan menyenangkan dalam lingkungan bermain baik di dalam maupun di luar ruangan. Lingkungan fisik hendaknya memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain. Penataan ruang belajar harus disesuaikan dengan ruang gerak anak dalam bermain sehingga anak dapat berinteraksi dengan mudah baik dengan pendidik maupun dengan temannya.
Lingkungan bermain hendaknya tidak memisahkan anak dari nilai-nilai budayanya, yaitu tidak membedakan nilai-nilai yang dipelajari di rumah dan tempat bermain ataupun di lingkungan sekitar. Pendidik harus peka terhadap karakteristik budaya masing-masing anak.
6. Menggunakan Pendekatan Tematik.
Kegiatan pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik. Tema sebagai wadah mengenalkan berbagai konsep untuk mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya. Tema dipilih dan dikembangkan dari hal-hal yang paling dekat dengan anak, sederhana, serta menarik minat.
7. Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan.
Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan dapat dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam proses pembelajaran.
8. Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar.
Setiap kegiatan untuk menstimulasi perkembangan potensi anak, perlu memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, antara lain lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya.
9. Mengembangkan Kecakapan Hidup.
Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup melalui penyiapan lingkungan belajar yang menunjang berkembangnya kemampuan menolong diri sendiri, disiplin dan sosialisasi serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.
10. Pemanfaatan Teknologi Informasi.
Pelaksanaan stimulasi pada anak usia dini dapat memanfaatkan teknologi untuk kelancaran kegiatan, misalnya tape, radio, televisi, komputer. Pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran dimaksudkan untuk mendorong anak menyenangi belajar.

[1] . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa Indonesia
[2]. Riwayat Attubani, teori-belajar-program-dan-prinsip-pembelajaran

[3] Yusuf Amir Faisal, Reorientasi Pendidikan Islam
[4] Muhaimin, Paradikma Pendidikan Islam
[5] Purwanto, prinsip-pembelajaran-pada-pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ya